Pendidikan

Sekolah IBU, Upaya Penguatan Pondasi Keluarga

Sekolah IBU, Upaya Penguatan Pondasi Keluarga

10 Oktober 2018

Beberapa waktu yang lalu, Wakil Bupati Bandung Barat, Hengki Kurniawan melakukan kunjungan kerja ke Kota Bogor. Kunjungan kerja yang dilakukan di sela-sela kesibukannya itu merupakan upaya nyata untuk melihat secara empiris terkait beberapa program yang telah berhasil dilaksanakan di Kota Bogor. Kali ini, program Sekolah Ibu yang menjadi bagian dari program inovatif Kota Bogor di bawah kepemimpinan Bima Arya Sugiarto menjadi objek perhatiannya. Kunjungan kerja yang dilakukan merupakan kunjungan kerja pertama yang selepas dilantik menjadi Wakil Bupati Bandung Barat.

Adalah sebuah kesengajaan, kunjungan yang dilakukannya dikhususkan pada upaya mengeksplorasi program Sekolah Ibu. Bisa jadi, langkah tersebut dilakukan dengan didasari asumsi bahwa sosok ibu merupakan titik tumpu yang menjadi landasan berpijak sang anak. Ibu memiliki peran strategis karena menjadi sosok pertama dan utama dalam perkembangan kehidupan sang anak.

Kunjungan kerja tersebut merupakan langkah strategis untuk menggali berbagai informasi kebijakan program pada kabupaten/kota lain, dalam hal ini Kota Bogor yang memungkinkan untuk diterapkan di Bandung Barat. Seperti diketahui, Kota Bogor merupakan salah satu kabupaten/kota di Jawa Barat yang mampu mengimplementasi berbagai program inovatif dalam rangka mengangkat dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat kota hujan ini. Salah satu program yang diterapkannya adalah penyelenggaraan Sekolah Ibu. Kota Bogor menjadi kabupaten/kota pertama di Jawa Barat, bahkan di Indonesia yang menyelenggarakan program ini, sehingga program ini menjadi magnet yang kuat bagi pimpinan daerah lainnya untuk menggali lebih jauh terkait penerapannya.

Pada Kunjungan Kerjanya, Wakil Bupati dampingi oleh beberapa unsur SKPD Kabupaten Bandung Barat. Kehadirannya di Balai Kota disambut langsung oleh Walikota Bogor dan unsur pimpinan Pemkot Bogor. Setelah penyambutan yang diisi dengan obrolan ringan, seluruh tamu diajak masuk ke ruang Paseban Sri Bima, ruang rapat Pemkot Bogor. Di ruang ini seluruh hadirin disuguhi informasi visual terkait dengan pelaksanaan Sekolah Ibu. Suguhan visual tersebut diperkuat dengan pemberian penjelasan tentang implementasi program Sekolah Ibu oleh Ketua TP PKK Kota Bogor.

Setelah kegiatan di Paseban Sri Bima, seluruh peserta diajak oleh Walikota dan Ketua TP PKK Bogor untuk mengunjungi dua kelurahan yang menjadi tempat kegiatan Sekolah Ibu. Kali ini, rombongan dibawa ke Kelurahan Pabaton dan Kelurahan Ciparigi. Keberangkatan rombongan difasilitasi oleh mobil Uncal, kendaraan wisata kota milik Pemkot Bogor.

Sekolah Ibu, Apa dan Bagaimana?

Tayangan visual dan paparan Ketua TP PKK menggambarkan bahwa Sekolah Ibu adalah program inovatif Pemkot Bogor dalam merespons slogan “Bogor Kota Ramah Keluarga”. Sekolah Ibu merupakan langkah strategis untuk memberdayakan perempuan dalam membangun bangsa. Penerapan program ini didasari oleh asumsi bahwa rumah yang didalamnya peran ibu sangat dominan, sebagai komunitas pertama dan utama dalam membangun dan mengembangkan kehidupan setiap penghuninya. Dengan demikian, kekuatan keluarga menjadi dasar pijakan setiap anggotanya dalam mengarungi kehidupan.

Penyelenggaraan Sekolah Ibu mengarah pada tujuan yang ingin dicapainya, yaitu: 1) mewujudkan masyarakat yang mandiri, beriman, dan berakhlak mulia, 2) meningkatkan potensi ekonomi keluarga, 3) pembinaan pemenuhan gizi seimbang, 4) menyadarkan masyarakat terhadap kesehatan lingkungan dan pola hidup sehat, 5) meningkatkan peran perempuan dalam pembangunan, serta 6) mempercepat program pemerintah dalam berbagai aspek pembangunan.

Leading sector program Sekolah Ibu adalah Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Kota Bogor. Pengelola/penyelenggara program ini adalah seluruh kecamatan di Kota Bogor. Sedangkan, pelaksana teknisnya adalah seluruh kelurahan di Kota Bogor. Dalam program ini, TP PKK pada berbagai tingkatan, berperan sebagai pendukung utama keterlaksanaannya. Kegiatan pembelajaran seluruh peserta didik dari Sekolah Ibu difasilitasi pada setiap balai kelurahan yang berjumlah 46 kelurahan. Proses pembelajarannya difaslitasi oleh 3 (tiga) orang fasilitator yang melaksanakan pembelajaran setiap hari Senin dan Kamis, dengan durasi selama 60 menit setiap harinya.

Terkait dengan fasilitator yang diterjunkan pada Sekolah Ibu merupakan tenaga pilihan yang telah melalui tahapan seleksi. Berbagai aspek menjadi bagian penilaian dalam penyeleksiannya. Seorang calon fasilitator, di antaranya harus memiliki kemampuan dalam menyampaikan materi dan berangkat dari kelarga yang harmonis.

Terkait dengan peserta, Sekolah Ibu diikuti oleh para ibu rumah tangga yang datang dari berbagai latar belakang kehidupan sosial, sekonomi, dan budaya. Pada setiap kelas di setiap kelurahan, para ibu yang menjadi peserta dibatasi maksimal 30 orang. Kalaupun pendaftar pada Sekolah Ibu ini melebihi kuota yang ditetapkan, maka mereka dimasukkan ke dalam daftar tunggu yang akan mengikuti pembelajaran setelah angkatan di depannya dinyatakan selesai menuntaskan program, melalui prosesi wisuda.

Pelaksanaan Sekolah Ibu yang menghabiskan waktu selama 20 kali pertemuan diisi dengan penyampaian materi pertama yaitu Urgensi Sekolah Ibu dan diakhiri dengan Evaluasi. Di antara kedua materi tersebut peserta mendapat materi yang terangkum dalam 18 (delapan belas) modul kegiatan. Kedelapan belas modul tersebut disusun oleh tim yang terdiri dari unsur TP PKK, DPMPA, serta unsur lainnya. Modul yang hampir final dikonsultasikan kepada tim dari IPB Bogor. Modul yang disusun terdiri atas 3 Bab. Bab 1 adalah Menuju Gerbang Pernikahan. Bab ini terdiri atas modul: 1. Urgensi Ketahanan Keluarga, 2. Konsep Dasar Perkawinan dan Delapan Fungsi Pokok Keluarga, 3. Kesehatan Reproduksi, 4. Mengenal Otak dan Kepribadian Manusia, 5. Menggali Potensi Diri. Bab 2 adalah Membangun Keluarga Bahagia. Bab ini terdiri atas modul: 6. Rumah Sehat, 7. Manajemen Keluarga sehat, 8. Komunikasi Efektif Pasutri, 9. Pertolongan Pertama pada Keluarga, 10. Peningkatan Kesehatan Keluarga, 11. Manajemen Konflik dan Stress. Bab 3 adalah Membangun Generasi Unggul. Bab ini terdiri atas modul: 12. Nilai dan Pola Asuh serta Komunikasi dengan Anak, 13. Komunikasi pada Remaja, 14. Pembagian Peran dalam Keluarga, 15. Pendidikan Sex (Pornografi, Narkoba, dan LGBT), 16. Etika berpakaian, 17. Lima Kunci Keamanan Pangan, 18. Keluarga Cinta Tanah Air.

Beberapa temuan penting dalam pelaksanaan Sekolah Ibu ini di antaranya mengarah pada penguatan keluarga sebagai ekosistem kehidupan. Sekolah Ibu menjadi komunitas penting bagi setiap pesertanya untuk berdiskusi dan berkolaborasi dalam memecahkan masalahan yang dihadapi oleh masing-masing peserta. Bahkan yang cukup menggembirakan, Sekolah Ibu telah menekan angka perceraian pasangan suami istri. Dengan demikian, efek domino dari terjadinya perceraian pasangan suami istri dapat ditekan seminimal mungkin. Seperti diketahui, perceraian dari pasangan suami istri akan berakibat pada berbagai pihak yang menjadi bagian dari ekosistem ini. Salah satunya, menekan penyimpangan perilaku negatif dari anak-anak mereka. Fakta telah membuktikan bahwa penyimpangan perilaku anak dipicu oleh keretakan keluarga.

Mungkinkah Sekolah Ibu Diterapkan di Bandung Barat?

Pertanyaan tersebut mulai berkecamuk saat lahirnya obrolan ringan antara Walikota Bogor dan Wakil Bupati Bandung Barat di Paseban Punta, ruang tamu Walikota Bogor. Cahaya terang mulai terpancar saat menerima paparan visual film singkat dan penjelasan Ketua TP PKK Kota Bogor. Harapan besar akan keterlaksanaan Sekolah Ibu di Bandung Barat semakin menguat saat rombongan diajak untuk membuktikan secara empiris terkait pelaksanaan Sekolah Ibu di dua kelurahan, yaitu Kelurahan Pabaton dan Kelurahan Ciparigi. Pada kedua kelurahan tersebut implementasi Sekolah Ibu terlihat cukup direspons oleh setiap pesertanya. Bahkan, testimony yang disampaikan oleh beberapa peserta Sekolah Ibu mengarah pada lahirnya kepuasan dari mereka. Kebermanfaatan dari keikutsertaan dalam program Sekolah Ibu dapat mereka rasakan. Kebermanfaatan yang sangat dirasakan adalah lahirnya nuansa baru dalam kehidupan rumah tangga mereka.

Mencermati fenomena yang terjadi dari penyelenggaraan Sekolah Ibu di Kota Bogor, Kabupaten Bandung Barat, bisa pula mengadopsi program tersebut. Namun, untuk mengimplementasikannya perlu dikaji lebih dalam karena penyelenggaraannya harus disesuaikan dengan kondisi geografis, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Bisa saja, untuk mengantisipasi keluasan wilayah Bandung Barat tersebut, penerapan Sekolah Ibu dilakukan pada beberapa desa yang tergolong perkotaan, seperti Lembang, Padalarang, dan Ngamprah. Selain itu, penerapannya dilaksanakan pula pada setiap desa dari ibu kota kecamatan. Barangkali, langkah tersebut yang bisa dilakukan dalam mengawali keterlaksanaan Sekolah Ibu di Bandung Barat.



(DISDIK dan KOMINFO KBB)

Lokasi KBB

Alamat KBB

Jl. Padalarang - Cisarua KM 2 Kecamatan Ngamprah

022-6866258

022-6866259

kbb@bandungbaratkab.go.id